Selasa, 24 April 2012

Sebuah Maaf


Ya, itu adalah berkat terbesar yang bisa didapatkan oleh seseorang.
Dengan demikian, berkat terbesar yang dapat kita berikan pada orang lain tidak lain dan tidak bukan juga adalah kasih.
Di dalam kasih yang sempurna, ada banyak unsur-unsur yang mulia, di antaranya penerimaan apa adanya, keinginan untuk selalu memberi yang terbaik, juga kemauan untuk memaafkan dan meminta maaf.
Diampuni dan mengampuni/memaafkan  merupakan dua hal yang selalu diperlukan manusia, terutama jika menyangkut hubungan dengan orang lain.
Lalu, bagaimana supaya kita bisa mengampuni/ memaafkan?
Jangan pernah membandingkan kesalahan siapa yang lebih besar!
Jika kita terus mempersoalkan hal ini, maka pertikaian takkan ada habis-habisnya.
Hubungan akan tetap dingin dan kerukunan akan tetap berdiri jauh-jauh.
Jangan pikirkan apakah orang yang kita maafkan sudah menyesal atau belum!
Jika kita menunggu dia menyesal, maka itu adalah kebodohan kita sendiri.
Iya kalau dia menyesal, bagaimana jika dia tetap tidak merasa salah, apa kita mau menunggu dia menyesal dulu baru kita melepas maaf?!
Jangan pikirkan lagi hal-hal yang telah lalu, terutama hal-hal yang pahit!
Ada beberapa orang yang terus mengingat kesalahan orang lain, bahkan ketika orang itu sudah mati atau pindah ke kota lain.
Hmmm, benar-benar wasting time untuk yang satu ini!
Jangan pikirkan kenyamanan yang ‘menipu’!
Beberapa orang berpikir bahwa dengan memaafkan, maka orang yang dimaafkan akan keenakan, sementara Andalah yang akan menjadi pihak yang menderita dan dirugikan.
Pemikiran ini jelas salah karena memaafkan itu demi kebahagiaan kita sendiri.
Setidaknya tidak akan ada lagi kemarahan yang menggerogoti sukacita kita bukan?!
Setelah memaafkan, Anda tak perlu memaksakan diri untuk berhubungan lagi dengan orang yang telah melukai Anda.
Misalnya putus hubungan dan kontak dari mantan yang ‘ringan tangan’.
Namun, tentunya hal ini tidak berlaku untuk keluarga atau orang-orang yang jelas-jelas tak mungkin dipisahkan dari Anda.
Selain itu, ada kalanya orang yang kita maafkan perlu tahu bahwa dia sudah dimaafkan, agar dia tidak terus terperosok dalam rasa bersalah.
Tunjukkan dengan sikap hangat bahwa Anda sudah memaafkannya.
Sikap Anda berbicara lebih kuat daripada kata-kata Anda.
Lalu, bagaimana untuk minta maaf?
Minta maaf dengan tulus, tanpa embel-embel alasan atau pembelaan diri.
Hal ini lebih mudah diterima daripada jika Anda menyisipkan pembelaan diri di dalam permohonan maaf Anda.
Saat seseorang terluka atas sikap Anda, dia tidak tertarik untuk mendengarkan penjabaran Anda.
Dia hanya ingin mendengarkan pengakuan Anda bahwa Anda menyesal.
Jangan minta maaf dan memaksa untuk dimaafkan.
Mungkin saat Anda minta maaf, permintaan maaf Anda ditolak atau diabaikan. Jangan berkecil hati!
Yang penting adalah Anda sudah berani mengakui kesalahan.
Beri dia waktu untuk sembuh dari luka hatinya.
Sedapat mungkin tetaplah bersikap ramah padanya.
Jangan pernah menyerah untuk mengampuni dan minta ampun, karena selama kita hidup, maka dua hal itu akan selalu ada, datang silih berganti dalam hidup kita.
Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar